Showing posts with label Introspeksi. Show all posts
Showing posts with label Introspeksi. Show all posts
P.S: Post ini isinya cuman curhat dan racuan aja ya. Karena kebetulan udah lama gak nulis ala-ala blogger, mungkin sekarang gue akan menikmati nulis biasa tanpa banyak mikir. Enjoy.

Afghan, 29

Jadi, ceritanya kemarin itu gue berusia genap 29 tahun. Rasanya ya.... gitu deh. Banyak banget turbulens dan dinamika kehidupan yang campur aduk dalam waktu bersamaan. Udah gitu gue lagi seneng-senengnya warnain rambut sampe rambut gue sekarang ancur parah :))

Oke. Karena kebetulan ini adalah tahun kedua gue menghabiskan birthday mostly di kantor (dan kayaknya juga gak akan dapet kue tahun ini; dan ternyata bener :D) gue mau cerita beberapa hal yang terjadi mulai semenjak pagi. Yuk, gue mulai ya.

Jadi, dari jauh-jauh hari tuh gue berencana untuk nraktir anak sekantor. Kandidat traktirannya yang kepikiran kemaren tuh tumpeng, kue ultah kayak cake rasa nastar atau es teler gitu, atau pisang goreng bu nanik yang gampang dan legendaris itu. Setelah dipikirin, tumpeng tuh mahal banget ya.

Untuk 50 pax aja udah habis sekitar 1,3 juta. Lah anak kantor gue total ada 120 orang,udah pasti kurang banget kan tuh, yang ada gue bakalan dibilang gak niat nraktir anak sekantor :))

Kalo kue? Hmmm, sebenernya tahun lalu gue juga bawa kue sendiri ke kantor. Yang ultah gue, yang bawa kue gue juga hahahaha (sedi amat). Nah, berhubung sekarang karyawannya udah banyak banget, kue udah pasti gak cukup deh. Akhirnya pilihan terakhir jatoh kepada pisang goreng bu nanik. Horeeeee!


Yaudah tuh, dari semalem sampe pagi bangun tidur tuh yang gue pikirin cuma pisang goreng pisang goreng aja. Jadi pas dateng ke kantor gue udah adrenaline rush tuh. Ngos-ngosan karena musti tektokan bareng gojek dan ngambil duit cash ke ATM.

Puji tuhan rencana gue berjalan lancar, malah pisang gorengnya nyisa dan apesnya gue lupa bawa pulang :))


Seharian gue habisin dengan ngeladenin ucapan selamat di kantor dan di whatsapp, ada beberapa temen yang kebetulan sengaja dateng cuma buat birthday gue. Oya, yang bikin gue happy sih pas ditraktir bos buat birthday treat. Ya abisan, gue tuh jarang banget di-treat gitu sama orang. Gue seneng parah sih, sekaligus bersyukur banget.


Tapi dari sekian hal yang terjadi, hal yang paling kerasa adalah value-value yang selama ini gue pegang tuh kayak diputer balik 180 derajat. Semacam puber kedua gitu. Gampang suka sama orang, gampang baper, gampang sakit hati, gampang gak percayaan, dan lain lain.

Jadi kayak pencarian value lo dalam membentuk prinsip-prinsip hidup selama ini tuh di-reset. Balik nol lagi. Dan gue bingung lah, belom pernah ada sejarahnya kejadian kayak gini seumur hidup.

Apalagi pas jam makan siang gue sempet-sempetnya heart-broken karena satu dan lain hal yang bikin gue demot parah dan mood nge-drop nyemplung jurang (yaela).

Di titik ini gue belajar banget bahwa yang kadang yang lu kira bakal ngerti malah jadi orang pertama yang gagal total untuk mengerti. Iya ini lagi ngomongin ekspektasi. Kayak hampir di segala aspek dan topik apapun, sangatlah buruk kalo lo menaruh ekspektasi berlebihan terhadap sesuatu.

Tadinya mah sebelum kejadian quote tersebut ya cuma sebatas quote, ampe akhirnya kemaren beneran ngerasain. Gue cuma bisa bilang "ooooo ya ya ya ya gini ya rasanya". Sakit ya cuy ternyata.

Oke skip.


Btw ulang tahun gue kali ini juga papasan sama bubarnya paguyuban tekken (acara rutin main bareng tekken gitu) karena salah satu co foundernya acara ini yaitu temen gue Radian juga last day. Soalnya kalo doi cabut itu mah udah pasti kagak ada yang main tekken lagi lah di kantor.


Tapi ngomong-ngomong, 2019 di usia jelang 29 tahun kemarin itu, buat gue adalah tahun goyah-goyahnya hidup. Ya goyah prinsip, ya goyah value juga. Trus tahun ini juga hubungan bareng istri lagi pait-paitnya. Ya itu, karena guenya lagi goyah, bawaannya melulu. Biasa, namanya rumah tangga lah ya.... Hahahahaha

Okay it's a wrap! Masalah value dan ekspektasi tadi, di titik gue nulis ini pun gue masih membenahi diri, karena kayak belum cukup waktu dan tenggelam dalam introspeksi untuk mikirin solusinya. 

See you next year, Me!


 "Why You Keep Attracting the 'Wrong' Person in Relationships"

Mana ada wrong person. Yang ada, persepsi kamu terhadap sebuah relationship itu yang salah. Lha, salah gimana? Orang kamu yang bolehin dia masuk ke hidupmu, kok.

Beberapa penyebabnya yang umum terjadi:
1. Kamu berekspektasi berlebihan. Sehingga rasa tidak puas kamu, kamu lampiaskan ke pasangan kamu.
2. Kamu belum sepenuhnya kenal sama dirimu sendiri. Karena kalo udah kenal, kamu tahu persis dong apa yang kamu butuhkan dan apa yang kamu cari?

Karena ujungnya, selalu balik ke diri sendiri sih. Sering-sering meluangkan waktu untuk diri sendiri (bukannya bengong ya, tapi kontemplasi). Kontemplasi itu caranya macem-macem dan beda buat beberapa orang. Kalo gue gimana?

Gimana cara gue berkontemplasi:
1. Membuat suatu daftar goal/achievement. Gak usah muluk-muluk, yang kecil2 aja. Begitu satu to-do-list kelar, rasanya ada rasa puas aja gitu. Terasa lebih menghargai diri sendiri. Pentingnya apa? Ya penting, biar kepala & badan belajar sensasi seperti apa yang ngenakkin dan memuaskan batin.

"Tapi itu kayaknya jadi kebiasaan atau habit gue deh"

Nah justru itu, berarti kamu selama ini belum menghasilkan progress yang signifikan ke arah yang kamu mau. Gak perlu nyalahkan keadaan, terima aja dengan lapang bahwa kamu (ritmenya) sedang melambat. Tapi janjilah sama diri sendiri, dalam waktu ke depan akan meluangkan waktu buat introspeksi lebih banyak lagi.

2. Melakukan sesuatu yang disuka, dengan catatan: sesuai porsinya. Ya kita taulah, semua orang punya hobi. Tapi terkadang gak bisa bedain mana yang lagi ngelakuin hobi, mana yang pelampiasan. Nah ini, lakuin hobimu sesuai porsinya aja. Kalo moodnya lagi 5 menit, ya udah 5 menit aja, jangan dipaksain, jangan dijadiin kewajiban. Biarin hobi kamu tetap berada di zona nyaman.

3. Kalo konteksnya nyari pasangan, gue selalu matok bahwa bukan seberapa sama/beda lo sama doi, tapi seberapa banyak hal yang bisa lo kompromiin ketika (akhirnya) bareng dia. Caranya? Ya pedekate dong!

4. Merasa selalu kehabisan waktu buat pedekate? Nah, inilah pentingnya poin pertama. Kalo kamu udah kenal diri sendiri, secara naluri udah bisa nebak nih tipe-tipe mana yang bakal get along sambil investasi. Gak perlu blind-date lagi.

Jadi kalo kamu ngerasa fase pedekate itu sangat menyita waktu, coba tanya dirimu sendiri. Yang kamu pingin kamu cari tahu itu, soal dia, atau soal kamu dalam diri dia?

Thumbnail source:


Hey it's me again!

Seluruh post ini sebenernya hanya sekedar trivia, semacam di tahun 2018 ini udah sejauh mana sih gue kenal dengan diri sendiri. Jika kamu memutuskan untuk terus baca, kemungkinan besar kamu bakalan tahu sedikit potongan-potongan hidup gue selama ini :)

1. What’s your philosophy in life?
Di ritme ibukota yang temponya serba cepat ini, sulit rasanya bergantung pada satu atau beberapa prinsip, apalagi filosofi. Kagak gajian kalo cuma pake filosofi :))

2. What’s the one thing you would like to change about yourself?
Buanyaaak! Hahahaha, selama kita masih jadi manusia, siapa sih yang gak pingin jadi orang lain? Tapi sejauh ini gue cukup puas sama pencapaian diri sendiri walaupun masih aja socially awkward. Oopps, yeah. Kalo bisa sih pingin less-socially awkward. Jadi extrovert sehari dengan energi berlimpah dan tetiba jadi supel ke semua orang bisa jadi sesi bermimpi yang menyenangkan.

3. Are you religious or spiritual?
Semenjak melihat begitu banyak perpecahan karena identitas di Indonesia, gue nggak lagi percaya dengan pandangan relijius yang melupakan nalar logikanya sebagai manusia. Karena kalo tujuan seseorang menjadi relijius itu untuk mencapai tingkat spiritual yang lebih baik, tanpa perlu teriak-teriak membela sana-sini pun hasilnya udah bisa terlihat dengan jelas di mata orang lain. Selama ini gue beragama hanya untuk mempermudah urusan sipil & kependudukan.

4. Do you consider yourself an introvert or an extrovert?
Introvert, indeed. Berkerumun (dan biasanya being fake) di dalam kerumunan banyak orang bener-bener menghabiskan energi gue dalam sekejap. Gue juga bisanya aksi-aksi aja, jarang bisa ngomong kecuali sama orang yang gue percaya, yang gue tahu dengan pasti mereka akan mendengarkan gue sampe habis. I'm a geek, and detail oriented person, jadi gue akan cerita sampe detail, kecuali orang tersebut hanya ingin basa-basi permukaan, I think it's kinda wasting time nonetheless.

5. Which parent are you closer to and why?
My father. Because men are straight-minded and less-dramatic.

6. What was the best phase in your life?
When I finally found out that I'm not that invisible.

7. What was the worst phase in your life?
Being helpless to my siblings.

8. Is what you’re doing now what you always wanted to do growing up?
Precisely not, I always want to be a president suatu country.

9. What makes you feel accomplished?
When my prediction exceeds my expectations about certain things.

10. What’s your favorite book/movie of all time and why did it speak to you so much?
Books doesn't always impress me. Tapi gue selalu suka koleksi majalah, buku-buku visual dictionary, dan cerita-cerita tokoh penting di dunia. Satu buku yang selalu gue inget adalah buku 100 Tokoh dari Michael H.Hart.

11. What is a relationship deal breaker for you?
Saat kamu temukan banyak perbedaan, tapi justru nggak banyak yang harus dikompromikan, it's a good deal.

12. Are you more into looks or brains?
Brain lah yaa. Biar seksih.

13. Would you ever take back someone who cheated?
Absolutely not. If cheating is the case, then I'm not a second chance believer.

14. How do you feel about sharing your password with your partner?
Suka insekyur sih, kayak ngasih ginjal gitu lho. Punya dua kayaknya gak berasa butuh, pas dikasih kok kayak ada yang ilang.

15. When do you think a person is ready for marriage?
Tentu saat dia udah kenal dengan dirinya sendiri. It's the very core of  relationship. Kalo seseorang udah rajin introspeksi thus kenal dengan dirinya, mengukur ekspektasi serta menjaga kebahagiaan diri sendiri dan orang lain bukanlah masalah besar.

16. What kind of parent do you think you will be?
The permisive one, I'm afraid. Gue dibesarkan di jaman yang seluruhnya open dan serba harus dirasain sendiri. Takutnya kebiasaan ini keterusan :(

17. What would you do if your parents didn’t like your partner?
Tell them this: Masa orangtua nggak bahagia ngeliat anaknya bahagia? Note: only if that person really makes you happy, in the right way. 

18. Who is that one person you can talk to about just anything?
Keliru pertanyaannya. Mau ngomong apa aja sama semua orang itu hal gampang, yang susah itu nyari yang beneran mau mendengarkan.

19. Do you usually stay friends with your exes?
Nggak, karena biasanya selalu berakhir dengan cara yang menyebalkan :))

20. Have you ever lost someone close to you?
Many of them. I'm not so good at approaching for the sake of maintaining communication. Gue akan belajar lagi.

21. If you are in a bad mood, do you prefer to be left alone or have someone to cheer you up?
If it a stranger, just fuck off. Kalo orang itu gue kenal, there is always an empty seat for you.

22. What’s an ideal weekend for you?
Saat lo bisa ngabisin duit hasil kerja lo dengan semena-mena, replenishing your energy for another pay-day.

23. What do you think of best friends of the opposite sex?
Rarely happens, apalagi di Indonesia ya. Meski memungkinkan, tapi kadang gak bisa bohongin perasaan kalo lagi nahan diri. Nggak, ini bukan curhat.

24. Do you judge a book by its cover?
Betul. Saya mudah termakan gimmick.

25. Are you confrontational?
Not always. Biasanya gue mundur kalo sedang menghadapi kebodohan. I just can't bear it cause there's no cure in stupidity in Indonesia.

26. When was the last time you broke someone’s heart?
Hmmmm kapan yaaaaaaaaaaa, masalahnya gue tahu dari mana kalo dia broken? Wong nggak ngaku, tau-tau pergi.

27. Would you relocate for love?
Tergantung ongkos.

28. Did you ever write a journal?
I did! Gue bahkan punya dua binder yang isinya clipping musik dan testimoni soal diri gue semasa sekolah. Macam perempuan aja gue ini.

29. What are you most thankful for?
Gue selalu bersyukur masih dikasih waktu untuk melakukan sesuatu. Apapun itu. Time is God, man.
 
30. Do you believe in second chances?
Hah! I already told you a couple minutes ago.

31. What’s the one thing that people always misunderstand about you?
Gue sebenernya pingin jadi sumber kehebohan. Kayak ngerasa dihargai dan didengarkan gitu deh, but it barely happened. Gue itu orangnya kurang ekspresif dengan oral words. Padahal itu cara termudah untuk ngasih tahu representasi emosi yekan, tapi juga cara termudah untuk bikin orang salah mengerti. Yang ngeselinnya lagi, orang jaman sekarang itu entah kenapa cepet banget nge-judge orang, tanpa ada keinginan untuk kenal lebih dekat. That's unfair for me. If the case is a professional case, not a personal,  I'll take it. But if you blend those two things, sigh you just can't understand introvert in one day.

32. What is your idea of a perfect vacation?
Saat lo buang duit banyak saat liburan, lalu pas pulang ternyata duitnya masih sisa banyak di luar ekspektasi. 

33. What did your past relationship teach you?
That I always deserve better.

34. What are your thoughts on online dating or tinder?
It's good for wasting time and get your thumb busy. But relationship is not only about finding matches. it's about quality. Ciaaah gitu.

35. What’s on your bucket list this year?
I want to take my wife to a lot of vacation. She deserve it.

36. When have you felt your biggest adrenaline rush?
When I listen to Babymetal & Maximum The Hormone's songs, they will make you stay young forever.

37. What is the craziest thing you’ve ever done and would you do it again?
Gue sebenernya selalu pingin bisa begitu, tapi gak pernah ketemu partner yang sama gilanya :)

38. If a genie granted you 3 wishes right now, what would you wish for?
1. Ask for another 1000 wishes. 2. Waiting the 999 wishes expired. 3. Ask for another 1000 Wishes. Like really, why the hell you want the genie grant you three wishes only?

39. What’s your biggest regret in life?
Knowing that people lives only for dead in the end. Karena banyak orang yang kehabisan waktu untuk introspeksi tanpa sempat berkarya. Berkarya is the key for immortality.

40. What do you think about when you’re by yourself?
Is this your final question? So boring! Gue orangnya jarang bengong, I always do something or sleeping.



Semua pertanyaan dan gambar dikutip dari:


Hey it's me again!

You got to agree, flow pekerjaan yang stuck atau buntu gara-gara ketidaksamaan visi dan goals itu menjengkelkan. Kitanya udah capek-capek peras otak secara sistematis dan visioner hanya untuk bikin deck, lalu mempertimbangkan segala macem hal agar suatu campaign sukses, sesuai budget, dan punya market-impact yang efektif, terkadang harus tersingkir hanya karena mereka bengek.

Iya, bengek karena empat alasan:

1. Bengek karena tergagap dengan ide sebesar itu lalu malah jadi pesimis dan ujungnya malah meragukan kualitas pekerjanya.

2. Bengek karena sebelumnya belum pernah denger ada ide se-breakthrough itu, akhirnya malah takut pakem-pakem selama ini udah ada dan bikin mereka nyaman, terancam musnah. Why so personal?

3. Bengek karena kepalanya overload. Overload karena selama ini mereka gak menyimak dan mengikuti pergolakan perubahan secara bertahap.

4. Bengek karena memiliki mindset yang sempit. Berpikir bahwa kamu ingin mengambil posisinya dia. Ketakutan ini wajar, mengingat kamu lebih kece daripada dia :)

Dari sekian banyak masalah di dunia kreatif, rasanya masalah ini yang paling melelahkan dan bikin butt-hurt.

Problem:

Jadi, kenapa sih mereka ini?

Mereka adalah orang-orang yang alergi dengan perubahan. Mereka bakalan ketar-ketir dan gagap jika sebuah dinamika datang, masuk dalam comfort zone mereka.

Karena mereka adalah tipikal orang "just employing" yang hanya sekedar bekerja nine-to-five setiap harinya. Satu-satunya objektif yang sangat mereka tunggu yaitu jam pulang kerja, dan pay-day.

Dengan mental dan mindset "just employing" tadi, terkadang mereka terkesan seperti penghambat dalam relasinya terhadap dunia pekerjaan. Cukup wajar kalau mereka agak takut dengan adanya dinamika dan perubahan. Yah, karena ritme yang monoton sudah cukup baik dan asik buat mereka, buat apa sih pake ada terobosan-terobosan segala macem?
"Apa pun bentuknya, sebuah perubahan tidak bisa dihindari. Kamu bisa milih untuk resist, atau terinjak-injak dan ditinggal."
Karena kesulitan mengikuti perubahan yang datang, cari muka adalah reaksi bertahan hidup pertama yang akan mereka lakukan. Semata untuk mencari zona aman di mana mereka cukup merasa "masih in-charge" di suatu situasi, untuk menutupi ketertinggalannya, atau sesederhana takut disangka gak kerja.

Mereka juga termasuk tukang ngeles ulung yang biasanya hobi mengulang-ulang pembicaraan orang agar terlihat mengerti permasalahan. Lha habis bingung mau nanggepin apa, yang ada aja lah dipake.
Gak tahu malu.
Untuk jangka panjang selanjutnya, setelah merasa menguasai keadaan, mereka akan berusaha untuk menarik orang-orang di sekitarnya untuk menyesuaikan dengan standar (ketertinggalannya) saat ini dengan berbagai alasan yang gak masuk akal, alias nyuruh orang down-grade ketimbang beradaptasi dan belajar untuk upgrade.

Yang lebih pait lagi, mereka gak punya kadar kritis yang cukup sehingga enggan untuk bertanya. Khususnya menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan (seberapa jauh) ketertinggalan mereka.

Gue melihat ini sebagai keadaan yang bikin kita serba salah dan terjebak dalam dilema "mau milih yang bener atau yang aman?" kind of situation. Apalagi jika kita bukan termasuk golongan yang punya otoritas/kuasa yang cukup, rasanya akan lumayan sulit buat mengambil suatu keputusan yang solutif.

From: AskIdeas

Solusi:


Kira-kira, ada nggak sih cara agar kita bisa siap menerima suatu perubahan dan selangkah lebih open-minded?

Kayaknya sih gak ada tips atau trik yang absolut ya. Gue kira, kita bisa sedikit mengarahkan diri agar jadi pribadi yang gak cepat puas, sehingga bisa terbuka dengan berbagai opsi secara terus menerus.

Lalu, bisa juga dengan mulai untuk jadi pendengar yang baik, WHICH IS VERY HARD bagi seseorang yang belum bisa melewati poin pertama. Karena dengan menjadi pendengar yang baik, kamu juga melatih diri untuk lebih observant dan bisa menilai serta menyesuaikan mana yang baik untukmu, dan mana yang nggak. Dan yang paling penting, menjadi pribadi yang lebih bisa menghargai, works on both side.

Ikhlaskan gengsimu menjadi debu-debu peri, karena gengsi akan selalu kalah dengan will to learn.

Untuk beberapa situasi khusus, semisal kamu udah hampir larut dalam sikon ini, jika kamu termasuk yang punya otoritas, "menampar" yang bersangkutan secara berkala bisa jadi obat yang mujarab untuk mendidik. Kasih tahu bahwa yang mereka lakukan itu menghambat sebuah flow pekerjaan dalam keterkaitan lingkup yang besar. Kalo ndablek, ya copot aja. "Kita gebuk", kalo kata Pak Owi.

Jika kamu orang yang udah terlanjur terjebak "di tengah" alias maju mundur kena dalam situasi ini, solusinya hanya bisa bersabar sambil makan ati. Karena kamu juga harus berpikir secara strategis jika kamu gak mau ide-ide brillianmu terbuang dengan percuma di antara telinga-telinga yang entah budegnya di mana.

Meanwhile, kamu boleh mulai mempertimbangkan opsi atau kesempatan lain yang lebih sesuai untuk bisa dijalankan di kemudian hari. Cheers!


"Social Cheat hanya lah rubrik baru yang gue buat hanya untuk catatan diri sendiri. Sehubungan dengan banyaknya kegelisahan dan unek-unek akhir-akhir ini yang jika ditahan bisa bikin pingin banting-banting helm."

Thumbnail from: Media
When thousands of people are protesting a good man & try every way possible to get him jailed, you know your country is fucked. - Sonia Eryka
Kita sesama manusia, satu sama lain, pada hakikatnya ada setara. Tapi kalo udah soal SARA, well ini adalah masalah/pembahasan dalam topik lain. Karena ada negara lain yang masih sibuk memperdebatkan hal tersebut, sementara kita; negeri yang sedari lahir kaya akan keberagaman HARUSNYA udah melewati fase tersebut.

Jika agama merupakan suatu sumber kehidupanmu, the sparks of your life, the very soul that driven you through the day, ya sudah. Cukup sampe situ.

Tapi ketahuilah, gak semua orang beriman punya life-sparks atau sumber kehidupan yang sama. Nggak selalu agama yang membuat dirinya terus bergairah menjalani hidup.

Ada kecintaan terhadap keluarga, kepedulian antar sesama manusia (philantropist contohnya), bahkan kecintaan terhadap makanan, atau pun hal lainnya. Yang istilahnya kalo sesuatu tersebut hilang, lenyap sudah gairahnya untuk hidup sebagai manusia.

Hal barusan, bisa berjalan berdampingan dan beriringan. Tapi entah kenapa kamu liatnya beda aja gitu. Diwolak-walik. Yang padahal pada dasarnya, sebenernya sama. 

Nah, gimana kalo ternyata sumber kehidupan kamu (abis yang paling gampang dan dekat karena saya jarang baca dan kurang luas pergaulannya hehehe) adalah agama?

Wah ya sah-sah aja dong!

But, surprise! Gak semua orang kayak kamu. Terima fakta dan harusnya kamu stop memaksa. Expand! Atau kalo perlu ganti circle pertemanan kamu, buka mata dan pindah dari kerumun-cuapan gang sempit yang bikin kamu ngerasa eksklusif tanpa sebab dari hingar-bingar dunia luar.

Ibarat agama adalah sepatu, kamu gak bisa maksain orang pake sepatu dengan cara yang sama seperti kamu hanya karena mereknya sama. Wow ini kan soal pengalaman spiritual. Spiritual means hanya kamu dan Tuhan yang tau. Orang gue gak ngalamin, kok maksa sih?

Please, stop memaksa hanya karena kamu jarang baca.

Masih inget PPKn bab satu jamanku dulu judulnya "Tenggang rasa". Dengan kata lain: Manusia gak cuma kamu doang, buanyak dan beragam. Belajarlah menerima.

Even, orang gila aja gak sampe bernyali mengganggu kehidupan orang lain meski dia beranggapan bahwa dunia emang udah gila. At least, dia gak memaksakan orang lain buat jadi sama gilanya dengan dia.

Dari sini
Harapanku?

Oh please. Tolonglah stop membuat suatu perkumpulan, paguyuban, atau organisasi massa yang isinya cuma kuantiti-tanpa-kualiti-tanpa-edukasi.

Atau organisasi yang berkumpul sekedar untuk menyibukkan diri; gak ada kerjaan. Sebuah paguyuban betah nganggur. Sebuah kelompok konyol bersumbu pendek. Sebuah ormas nasi kotak. Sebuah massa-manut-habib.

Atau terlebih lagi, organisasi tempat di mana berkumpulnya orang-orang yang diberi kebebasan dan keleluasaan untuk selalu menebar kebencian atas nama intoleransi dan mayoritas agama.

Karena sebenarnya mereka merasa invisible.

Mayoritas dalam wujud minoritas, tersisih dan tersingkir ke pinggir. Kalap ingin dihormati, lantas menggunakan kekerasan agar didengar. Karena jauh di dalam hati kecil mereka:
"Tolong, saya cuma ingin didengarkan, saya ingin diakui", 
Sayangnya, akibat bahan bacaan yang kurang berimbang dan minim metode beraspirasi, serta keblinger digerus pertumbuhan generasi. Sesungguhnya mereka gagal dan lucunya merasa kebal.
via Vice.com
Agamaku mungkin mayoritas, tapi bukan prioritas. Dan kutipan berikut, bisa dipahami tanpa harus sekolah tinggi-tinggi:
Jadi manusia (terlebih dulu selalu) lebih penting daripada sekedar jadi umat.
Karena Islam yang kutahu, bukan pemburu darah, penyulut amarah, serta berisik sampai bikin gerah. Islam yang kutahu adalah yang damai, berlimpah kemudahan dan pemaaf.



http://www.cromoart.de/wordpress/2011/10/external-film-inspiration-no-67/

Akhirnya dapet juga atmosfirnya (thanks to "Tentang Aku"-nya Jingga). 

Biasanya sih yang beginian ditulis di tumblr, tapi berhubung segmen di sana lebih ke menye-menye penuh haru dan desahan, jadinya nggak deh.

Buka feed Facebook lalu nggak sengaja mampir ke post http://secret-silence.blogspot.co.id/2015/11/kenapa-tidak-lagi-menulis.html, milik salah satu temen kerja yang menurut-aku-kita-temen-tapi-nggak-tahu-deh-menurut-dia gitu. Dueng, rasanya kayak kesentil-sentil.

Beberapa singgungan di post tersebut semacem jadi stimuli buat keresahanku selama tiga bulan terakhir. 
Source
Tahu kan gimana rasanya blog ancur kamu mendadak direview orang? Nah, ya gitu itu rasanya. Postingan berikut ini ditulis oleh Immanuel Lubis, dan kontennya gue copas plek-plek-an dari sumbernya langsung dari sini.


Merantau ke Solo dengan modal 500 ribu perak-udah-termasuk-ongkos, ditambah resiko terancam nganggur sebulan itu serem juga, lho.

Pasalnya, dari awal gue tahu Solo pastinya bukan kota korporat kayak Jakarta, yang mana lapangan pekerjaannya lebih menjanjikan serta dibuai gaji yang menggiurkan.

Solo itu kotanya para pedagang dan wirausaha, sob. Di sini bukan tempatnya gedung-gedung berlantai 33 yang pintu masuknya pake gesek kartu. Gedung tinggi di Solo tuh cuma ada dua jenis, kalo nggak Luwes (pusat belanja), pasti sisanya hotel.

Lha, kok masih nekat?

Yaaaa namanya juga nyari rejeki halal. Sekali-kali nyari duit yang nggak bau knalpot boleh kan? :)

Ceritanya ...

Karena gue nggak dibekali dengan sumber daya yang menjanjikan seperti laptop dan koneksi internet, satu-satunya cara nyari lowongan di sana adalah dengan metode konvensional.

Yak, gue harus bangun pagi demi mengejar koran terhangat dalam genggaman. Karena lewat sejam aja, abis deh itu koran buat bahan rumpi penghuni rumah, dan musti nunggu malam hari buat ngobrak-ngabrik koran dengan pantat nyaman.

Mading Kantor Pos
Plus, gue harus rela mondar-mondir ke kantor pos demi ngecek ketersediaan lapangan kerja di sana. Dari nyatetin alamat kantornya, bolak-balik ke warnet buat nge-print CV, sampe akhirnya nyemplungin lamaran di meja resepsionis dengan raut muka tanpa keyakinan.

Karena gue sadar, ngelamar kerja tahun 2013 harusnya nggak sebegininya sih.

Gue juga senantiasa selalu lupa berdo'a. Habis gimana ya, gue lebih percaya usaha gigih dan prediksi realita sih. ((BOLEH TEPUK TANGAN))

Genap dua minggu tanpa hasil, gue geram dan berontak............ dari kasur. Asik kali ya kalo maen-maen ke Pasar Kembang. Siapa tahu siapa yang tahu.

Eh, ternyata bener.

Salah satu perusahaan di areal ruko sana sepertinya menjanjikan kesempatan buat gue. Meski plang PT-nya ketutupan pohon, gue harus yakin bahwa hal tersebut bukan merupakan indikasi kesialan.

Areal Ruko
Tanya-tanya dikit ke resepsionis, ternyata perusahaan ini bergerak di bidang pengajaran robotika.

Langsung aja riset sana-sini, eh ternyata sepupu gue pernah kerja di sana. Wuih, makin gampang aja dong ya. Dengan berbekal cerita sepupu gue yang bilang bahwa dia baru kerja dua hari terus keluar, gue tetep mantep nggak peduli.

Selang tiga hari, lamaran gue segera tersulap jadi panggilan interview. Hore.

Setelah hampir dua jam chit-chat sama Kepala Cabangnya, kita akhirnya setuju buat saling memperkerjakan. Ciyeee yang dapet kerja di Solo :')

Konon, bisa kerja di suatu PT di Solo itu jadi kebanggaan tersendiri buat orang lokal, lho. Mengingat di sini memang surganya wirausaha dan dagang-dagang cantik.

Hari kedua kerja, foto-foto nggak boleh khilaf
Sekelar tanda tangan kontrak "nggak boleh minggat" selama dua tahun, bersedia ekskul keliling ke berbagai sekolah, serta wajib serabutan jadi petugas piket kantor, masa training gue jadi guru robotika selama sebulan pun dimulai.

Kesasar jadi guru...

Meski masa training baru lewat dua hari, I still have no idea what robotic is, tapi gue sadar apa yang gue pelajari sekarang nantinya akan gue "forward" ke murid-murid yang belajar di LPK ini, which is jadi tantangan terbesar di pekerjaan ini.

"Gimana caranya biar hal serumit robotika bisa dijelaskan dengan gamblang pake bahasa yang dimengerti anak-anak?"

Gue terus-terusan mikirin hal tersebut sampe nggak terasa masa training seminggu gue kelar, tanda dimana masa on-job training gue dimulai.

Hari perdana on-job training, kayaknya hal pertama yang harus gue lakukan adalah meng-observe tipikal murid-murid yang belajar di sini.

Ternyata, yang sering datang ke LPK kebanyakan murid-murid kelas TK hingga kelas 3 SMP. Dan karena gue baru masuk, gue dapet jatah ngajar anak-anak kelas TK sampai kelas empat SD (ajah).

Emang dasar nggak punya basic apapun di bidang robotika, gue sempet pesimis duluan. Karena di hari pertama on-job training, gue kebagian anak kelas 2 SD yang dikenal "killer" di LPK ini, Jason namanya.

Killer bukan berarti seneng nyekek orang kayak Jason Statham, tapi Jason adalah anak paling manja di sini. Terkenal sering ngerengek dan hobi buang-buangin mainan kalo lagi stuck nggak bisa ngerakit robot.

90 menit jam pelajaran akhinya selesai juga dengan durasi ngambek hampir 40 menit sendiri. Fiuh, hari pertama akhirnya lewat juga meski agak gagap :))

How to be a good teacher?

Setelah lewat empat hari, gue baru paham apa yang mereka maksud dengan istilah "robotika" di sini.

Ternyata, robotika yang dimaksud adalah, memahami seluk-beluk suatu mekanisme melalui simulasi robot/program (software), baik manual maupun yang terotomatisasi. Seperti mekanisme persneling, katrol, pengungkit, pergerakan mesin kendaraan, dan lain-lain.

Dari sini, impresi awal yang gue tangkap mengenai definisi robot pun berubah total. Dari yang awalnya ngebayangin Optimus Prime dan Megazord, berakhir jadi simulation-kit yang peralatannya minjem punya Fischertechnik. 
Salah satu contoh Fischer Kit
Gue jadi kepikiran, gimana ya perasaan anak-anak yang terlanjur bahagia liat brosur-brosur LPK yang mostly pake gambar robot keren a la Transformers dan Pacific Rim, dan ternyata berakhir dengan miniatur edukasi di luar perkiraan mereka?

Mungkin sempet kecewa, tapi yah toys still a toys :)

Lalu, untungnya apa sih belajar robotik?

Di era yang hampir semua "ketertarikan anak kecil" dipindah ke dunia digital kayak sekarang ini, menghasilkan sebuah kebiasaan jelek yang gue sebut dengan "berpikir instant".

Tahu dong, apa yang disuguhkan gadget termasuk segala informasi di dalamnya, selalu dieksekusi secara instant. Tinggal pencat-pencet opsi tombol yang ada, result akan datang dengan sendirinya. Membuat anak-anak terlatih buat berpikir cepat tanpa mengalami suatu proses dan progress.

Nah, robotika ini bisa jadi alternatif buat mengatasi hal tersebut.

Di edukasi robotika tahap dasar, anak-anak dilatih buat menemukan solusi dari sebuah masalah dan meningkatkan level berpikir logis yang dididik dari rasa penasaran. Rasa penasaran tersebut bikin anak jadi "gatel" dan terus-terusan banyak nanya, menghasilkan generasi muda yang lebih kritis terhadap cara kerja suatu hal.

Hal tersebut tentunya nggak bisa lepas dari kualitas dan peran pengajar yang baik. Berikut empat poin penting yang gue pelajari:

1. Memahami karakterisitik anak adalah nomer satu, ilmu itu nomer kesekian.

Pepatah "percuma pinter kalo nggak ada yang ngerti" tampaknya tepat diaplikasikan ke kasus ini. Karena daya tangkap dan cara komunikasi anak beda-beda, pengajar harus pinter menyelipkan pelajaran di sela-sela ngobrol.

Gimana biar bisa ngobrol dengan baik? Ya harus ngerti anaknya. Ilmu serumit apapun, kalo dia nyaman sama kita, dia akan banyak nanya kok sampe dia bener-bener paham.

Setelah kamu paham dan menyerap vocabulary si anak saat ngobrol, bahasa "robotika" atau pelajaran apapun dengan versi yang lebih mudah dipahami akan muncul dengan sendirinya.

2. Ngertiin anak-anak itu bukan soal durasi, jadilah aktif.

Rasa asing di tempat kerja baru atau ketemu orang baru itu sebenernya hal biasa, tapi kadang justru menjadikan kita pasif.

Cara paling mudah ngertiin anak-anak itu, sering-seringlah diajak ngobrol, jangan nunggu anaknya ceriwis. Gali hal apapun yang sekiranya bisa jadi topik pembicaraan dan anaknya tertarik. Kalo udah deket, biasanya mereka mau terbuka buat cerita hal-hal yang lebih personal.

Tapi ati-ati, kalo kasusnya anak-anak perempuan, mereka bisa jadi lebih sensitif. Sebisa mungkin hindari ngobrol dengan topik personal kecuali kamu udah bener-bener paham karakternya.

3. Jadilah dedikatif dan fleksibel

Setelah kamu tanda tangan kontrak, disitu adalah momen dimana kamu setuju menjadi pengajar. Pengajar/guru selalu erat kaitannya sama dedikasi.

Dedikasi yang dimaksud adalah, jangan males-males! Apalagi kalo hubungannya dengan pelajaran. Inget, segala apapun yang kamu omongin saat jadi pengajar akan diserap oleh anak-anak. Karena anak-anak kan nganggep kamu gurunya :)

Kadang ada pengajar yang nggak mau susah dan cenderung copy-paste. Bahasa yang diajarkan trainer saat training, disampaikan secara persis dan mentah-mentah ke anak-anak. Mau ngerti atau nggak, yang penting edukasi tersampaikan.

Nah ini nih.

Jangan males-males mikirin dan meramu ulang bahasa pengajaran. Capek memang, mengingat daya tangkap dan cara komunikasi anak-anak beragam. Inget lho, kan kamu udah setuju buat jadi guru dengan segala konsekuensinya :)

4. Stay calm and encouraging

Ada kalanya anak-anak juga ngerasa nggak percaya diri, frustasi sama pelajaran, dan ngerasa dirinya nggak cukup mampu buat menyelesaikan sebuah masalah. Kamu juga nggak boleh kebawa nge-down dan apatis mentang-mentang nggak ada atasan yang tahu dan tetep terima gaji.

Ini adalah tugas kamu untuk tetap nyemangatin si anak. Bukan cuma soal nama baik perusahaan aja, tapi ini juga soal nama baik kamu sebagai orangtua kelak. Bikin jokes ringan dan cerita-cerita konyol biasanya bisa jadi obat penyemangat yang ampuh.


A month later ...

Widih, ternyata pembelajaran gue di LPK ini belom berhenti. Ternyata masih ada level training yang lebih advanced lagi, yakni bidang mekatronika/mikrokontroler (CMIIW).

Namanya juga kenangan, pasti ada ngeblurnya lah :)
Pololu 3PI
Jadi, di level ini gue baru kenal tentang kayak gimana teknik solder-menyolder, bikin saklar mini buat aktivasi robot balap, pembacaan sensor, dan pemrograman lewat software Atmel AVR. Kalo nggak salah, kitnya pake merk KAI-ROBOT dan POLOLU. Imporan Korea dan Ameriki, lho.


KAI ROBOT

Nah, edukasi ini dilanjutkan dengan membuat robot-balap sendiri yang nantinya bisa mendidik si anak jadi lebih kompetitif dan berani bersaing. Mengenai orientasi apakah ilmu ini akan bisa dipergunakan di dunia pekerjaan nantinya, sepertinya masih agak ngeblur.

But still, ini keren banget! Kalau aja setiap materi fisika di SD/SMP ada simulasi robotiknya, anak-anak sekarang mungkin jadi lebih kritis ketimbang hobi nge-fans sama dangdut koplo.
[Pret's-pektif]

Jadi, gue belajar apa aja nih?

1. Yang terpenting, gue jadi kenal berbagai karakterisitik anak yang belajar di LPK tersebut, terutama dari segi pergolakan emosinya. Dari mulai yang lokal sampai yang interlokal, dari yang pendiem sampai yang cengeng, semuanya bikin gue sadar bahwa jadi pendidik itu nggak mudah.

Semua cuma soal apakah anaknya gagal terdidik, atau tenaga pengajarnya yang kurang terdidik?


2. Ini pertama kalinya gue kebagian serabutan piket di kantor sendiri. Membuat gue makin sadar, kita harus bisa prihatin di segala situasi.

3. Meski semua pengalaman robotika ini nggak kepake di pekerjaan gue sekarang, at least kalo ditanya kenapa roda kendaraan harus bulet, kenapa persneling pake beraneka ragam gear, dan gimana cara pintu otomatis di mall-mall bekerja, gue pasti bisa jawab.

Cheers for the power of sharing \o/

Selama ini ngikutin test-test kepribadian gitu hasilnya serasa nggak ada yang valid sama gue. Terus iseng-iseng main ke http://www.16personalities.com dan woaaa.. mencengangkan.

I am ISTJ, termasuk personality yang cuma ada 13% dari total penduduk dunia. *Bangga gitu*

Source
9 Februari 2015, beberapa daerah di Jakarta khususnya Jakut, dilanda genangan yang lumayan parah. Tapi untung, kosan gue di Jaktim nggak ikut kena kayak tahun lalu :))

Makasih banget Pak Jokowi-Ahok. 

Tapi teuteup aja ada orang-orang ciprik yang tekun menyalahkan pejabat khususnya Pemda setiap kali rumahnya kebanjiran. Yang lucu lagi, yang komplain ini biasanya orang-orang kaya yang tinggal deket bantaran kali dan sungai.Tabungan rokoknya kebawa banjir, katanya. Ehm.

Anyway..

Karena hujan yang awet semenjak jam sepuluh malem kemarin, udah pasti gak bisa kemana-mana dong, selain sekrol-sekrol timeline Twitter.

Karena sebagian besar yang gue follow adalah pekerja sosmed, blogger, dan penulis, satu highlight yang dibahas adalah, soal mereka-mereka yang bersyukur bisa kerja di rumah. Bebas dari basah, kejebak banjir, dan telat masuk kantor. Ini menarik buat gue.
Source

Berhubung demam typhoid kali ini adalah yang terburuk dan paling lama sembuh dari typhoid sebelumnya, kayaknya akan bagus jika pengalaman gue ini di share.

Jadi ceritanya, gue udah mulai sakit semenjak tanggal 26 Desember 2014 dan baru bisa recover hari ini, 24 Januari 2015. Ini adalah typhoid ketiga (yang bukan gejala) gue. Yang pertama itu waktu kecil, kedua tahun 2013 lalu, dan sekarang kena lagi.

Awal cerita dimulai di jam setengah sembilan pagi di hari Sabtu, ketika gue terpaksa harus bangun buat mengungsikan motor ke rumah sebelah karena banjir di depan kosan udah setinggi 30-40 cm (se-paha/se-perut orang dewasa). Nah, sebelum gue dibangunin dan mandi, selama ganti baju itu gue udah ngerasa sempoyongan. Karena track-record tiga hari lalu gue memang nerobos hujan terus-terusan meski pakai mantel, plus begadang ngerjain kerjaan. Ditambah besoknya musti bangun pagi-pagi banget karena kaget, ya kalian bisa bayangin lah rasanya.
Source

Ambience. Ambience. Ambience.

Tadinya gue juga diajarin sama pacar tentang apa sih yang dia maksud dengan ambience itu. Jadi ambience (versi kita) adalah semacem rasa/atmosfir ketika kamu lagi dengerin lagu-lagu tertentu, terus kamu ngerasa terbawa dan langsung pingin ngapa-ngapain/melakukan aktifitas apaaaa gitu. Ehehehehehehehe.

Nggak jarang juga, ambience dari suatu lagu terkadang bisa bikin memori-memori lama kita akan sesuatu kembali muncul. Istilahnya time-lapse gitu lah. Jadii, apa aja sih lagu-lagu yang bikin gue time-lapse selama ini? Hmmm....
Perceraian, atau istilah kerennya divorce, memang seburuk-buruknya nasib rumah tangga. Dampak paling jeleknya, kita para anak, seolah kehilangan satu setir dan role-model.
Tapi tahu yang lebih jelek dari itu? Menyalahkan dan terus mengeluh atas segala keadaan yang terjadi seolah semuanya salah orang tua.

Meski secara fakta terbukti (mungkin) memang salah orang tua yang nggak sanggup mempertahankan, tetapi mengeluh dan blaming parents terus menerus di setiap aspek yang terjadi di diri kamu selanjutnya, jelas bukan solusi.

Dari situ, kamu mulai bertanya-tanya; gimana sih pondasi percintaan mereka dulunya?

Gimana sih ceritanya sampe kenapa baru sekarang mutusin buat nggak bertahan? Oke deh kalian nggak bisa pertahanin hubungan, tapi bisa kan pertahanin demi anak?

Hal-hal semacam itu lumrah, dan ketika kamu tanya hal tersebut, kamu harus siap sama jawabannya. (Karena menurutku, kalau pondasi sebuah hubungan memang kuat dan jelas sejak awal, berpisah bukan demi anak adalah hal terakhir yang bisa terlintas dipikiran mereka).

Divorce adalah nasib orang tua, bukan anak. Kamu masih bisa berjuang untuk masa depanmu yang lebih baik walaupun terpincang-pincang. Contoh kecilnya, mengusahakan hal yang terjadi pada ortu kamu, nggak terjadi dalam keluargamu kelak.


Gambar dari sini
Aku punya banyak kenalan yang ortunya divorce. Faktornya pun beragam, masalah orang ketiga, ada yang adu selingkuh, ada yang nggak tahu apa-apa karena pisahnya sejak masih kecil, dll.

In my view, mereka selalu terlihat depresi, gloomy, kayak mereka orang paling bernasib buruk sejagat. Bukannya salut dan bersimpati, malah jadi kasian. Karena mereka sedikit demi sedikit cuma menghambat masa depan mereka yang harusnya bisa lebih cerah.

I'll tell you why.

Ortuku juga divorce, 2004 silam. Sejak saat itu aku tahu, hidupku nggak akan sama lagi. Sejujurnya sih, pas di jaman divorce tersebut, aku nggak "sakit-sakit" amat karena pikiranku saat itu lagi getol-getolnya main game online :))

Sejak mereka terpisah, aku "dilempar" ke rumah eyang di Bandung. Karena menurut keluarga eyang aku terlalu visioner, aku mutusin bahwa memang nggak ada lagi kecocokan. Dimulailah perjalanan ngekos-ku dari tahun 2006 hingga sekarang.

Selama ngekos, hubunganku dengan orang tua susah banget buat deket. Akarnya: Berawal dari masalah ketidak-siapan kedua belah pihak soal biaya pengadilan, impactnya masih terasa/terbawa sampe masa-masa pasca-divorce dan bahkan sampai sekarang.

Keadaan itu bikin mereka jadi sangat money-oriented. Imbas dari chapter hidup yang terpecah-belah, mereka berpikir kestabilan finansial adalah kunci pertama merintis hidup baru. Dan pentingnya menjaga komunikasi dengan anak mungkin jadi prioritas kesekian saat itu.

However..

Karena gue secara hukum adalah tanggung jawab Bokap, akhirnya kita ngobrol kalo lagi ada masalah yang berhubungan dengan finansial aja. Selain itu nggak pernah, kalo pernah pun itu cuma by phone aja. Sementara nyokap, beliau sibuk merintis "chapter" barunya untuk mencoba survive sendiri di Jakarta.

Kekosongan luar biasa yang mulai kerasa selama itu, diisi oleh hingar-bingar jalan Cihampelas. Pertama kali banget hidup di Bandung nih ceritanya. Dimana saat itu, pertama kalinya aku berhadapan dengan sosialisasi secara langsung tanpa teori di lingkungan "asing". Iya, karena aku nggak supel, tapi gampang nyambung sama orang.

Aku belajar jaga diri, belajar jarang makan enak, tahu rasanya nggak megang duit, tahu rasanya megang duit banyak tapi langsung habis di tanggal tiga dan terpaksa dikejar-kejar orang warung karena kebanyakan ngutang nasi, aku digembleng habis-habisan sama lingkungan.

Sejenak, aku bisa lupa sama orang tuaku. Pikirku waktu itu, nggak ada gunanya kamu terus-terusan berharap sama ortu yang baru pada ngerilis chapter hidup masing-masing.  

You've got to move on.

Akhirnya di tahun 2014, nyokap tetap berusaha survive sendiri, dan Bokap pun udah punya perempuan baru yang bisa jaga beliau. Meski rasa kekosongan tersebut memang masih ada, nobody can fill it except my parents.

Tapi itu bikin aku sadar. Bahwa keadaan memaksaku untuk seperti ini. Dimana masing-masing dari kita; Bokap, Nyokap, dan aku adalah produk dari divorce, sedang berusaha untuk merintis chapter hidup baru masing-masing setelah apa yang terjadi. Dan masing-masing dari kita, nggak seharusnya "ngerecokin" chapter dari ketiga belah pihak yang lagi berusaha untuk dirintis.

Kupikir, masih lebih baik satu orang tertinggal, daripada satu orang ngerecokin orang yang lain, malah jadi dua orang yang tertinggal. Kecuali salah satu dari kita udah settle.
In the end, you still have to pay the price.
Sekarang aku jadi orang yang independen. Prinsip dan standar hidup yang terbentuk dari berbagai jenis lingkungan, grants me power to choosing any life with no hesitation.

Survive memang capek. Tetapi terkadang, ketika kamu merentang timeline survive dari dulu sampai sekarang, ya akhirnya memang itulah jalan yang harus kamu tempuh dan terima. Beruntungnya, aku nggak pernah ngeluh semenjak mereka divorce. Karena ngeluh cuma buat mereka yang mentalnya terbatas.

Ngeluh is such a waste.

Aku ngerti kok kalian yang nasibnya kurang beruntung selalu memposisikan diri sebagai victim. Nggak salah juga sih karena satu-satunya yang jadi korban divorce memang cuma anak. Cuman mau sampai kapan? Emangnya nggak pingin maju?
Keep blaming your parents doesn't brighten your future.
Source
Sekali lagi, nasib kamu nggak berhenti saat mereka divorce. Kamu masih bisa berusaha kok. Yang jadi penghalang adalah seberapa besar niat kamu buat mewujudkan visi yang kamu yakin itu membawa manfaat dan perubahan positif untuk kamu.

Aku mau share pengalaman dan tips kecil soal hal-hal yang kerap kali bikin down anak-anak divorce ketika mereka menjalani hidup setelahnya.

1. Kehilangan Role-Model

Krusial banget. Role-model menurutku, semacam orang yang akan selalu jadi panutan saat kehilangan arah. Orang yang selalu membekas di pikiran saat kita mulai ngerasa banyak melakukan kesalahan. Dan yang paling penting, role-model adalah desperate-weapon saat nggak punya tempat berpulang. You'll always need their wisdom.

Role-model seperti orangtua nggak akan pernah bisa tergantikan. Terlepas dari apa yang udah diperbuatnya, don't you ever forget your parents. They are the best couple you ever had.

Karena pengganti orangtua sulit banget buat dicari, kamu bisa nyari alternatifnya. Contoh, kamu bisa cari pacar yang (kebetulan) ortunya nggak ada masalah. Kalo kamu langgeng, ortu dia juga akan jadi ortumu juga kan? Punya pacar yang ortunya baik-baik aja aku pikir paling cocok sama anak divorce.

Bukan soal dapet pengganti ortu baru, tapi karena keadaan ortu pacar yang baik-baik aja, bisa jadi reminder bahwa kamu dulu pernah punya ortu sebaik mereka. Kemudian ortu kamu, bisa jadi contoh preventif untuk pacar kamu juga. You will benefits each other.

2. Takut Melangkah

Skill memilah mana baik-mana jelek sangat dibutuhkan disini. Karena lingkungan kan beragam banget, bisa aja bikin kamu mateng, bisa juga bikin kamu kesasar.

Contoh: Lingkungan sekolah, lingkungan pertemanan, lingkungan kantor, dll. Memang nggak bisa nggantiin ortu, tapi kalo kamu sering "mendonasikan" diri untuk menikmati lingkungan, bisa bikin kamu nggak terlalu kesepian, dan tambah-tambah pengalaman.

Kadang ada kejadian yang menurut kamu jelek, tapi ada benefitnya buat kamu eh' nggak dilakuin, dan ada kejadian dimana yang menurutmu bener, justru bikin nyesel di kemudian hari.

Value yang kamu dapet dari orangtua juga "ada main" disini. Semisal nasib kamu mirip-mirip aku, kamu akan berjuang untuk bikin "value baru" buat diri sendiri. Baru sehabis itu kamu kompromiin sama value yang didapet dari ortu.Be very careful for what you've choosen.

3. Kesepian

Make friends adalah solusi yang paling baik. Buat orang supel, hal ini nggak terlalu jadi masalah. Buat orang kuper, somehow bukan orangnya yang mereka cari, tapi kemistri interaksinya. Kamu perlu cari satu orang yang dependable, ngerti semua persoalan kamu dan bisa bantu kamu untuk lebih supel nyari temen yang lain. Go hang out, perluas networking kamu.

Tapi tetep, kalo kamu bisa cari orang yang lebih tua sebagai temen/mentor kamu, it worth a lot of friends.

Gimana dengan perihal nyari banyak kesibukan biar nggak kesepian? Nurut pengalaman aku, boleh aja. Tapi beberapa orang justru gagal karena mereka nggak pinter ngatur waktu, dan cenderung jadi pelampiasan semata, akhirnya jadi linglung sendiri. Kegiatan dan kesibukan kan' beda. Orang sibuk adalah orang yang nggak pinter ngatur waktu.

Tapi ya siapa yang tahu? Life can't reveals by itself. Kalau kamu bisa lebih survive dan mapan dari yang nggak divorce, big achievement banget dong? Divorce masih lebih baik daripada mereka yang menyia-nyiakan orang tua mereka (yang masih utuh).
Pic source
 Let me just tell you some stories.

Kasus pertama: Bandung, sekitar tahun 2006/2007. Lokasi: Kosan "terakhir pindah" di Cihampelas, depan SMA Pasundan 8.

Aku ngekos di bangunan bercat merah jambu bertingkat dua. Hoki juga sih bisa dapet kos-kosan seharga 300 ribu perak di daerah Cihampelas, meski berakhir dengan kenaikan 50 ribu tiap setengah tahun dan ngekos disitu selama dua tahun, masih bisa denger kicauan burung dan raungan macan di subuh sampai pagi hari, lengkap dengan deruk kodok dan ngikrikan jangkrik di malam hari, bikin suasana ngekos makin cozy aja setiap harinya. Tinggal tambah gorengan sama kopi panas, kelar surganya.

Masih inget dong, perempuan yang postingan Path-nya bocor soal dia yang nggak mau nge-share tempat duduk buat ibu hamil di KRL?

Kemarin, 28 Agustus 2014, kejadian postingan Path bocor terulang lagi.

Headline: Ditolak Isi BBM di Antrean Mobil, Florence Anggap Orang Jogja Tolol (http://www.nemukabar.com/2014/08/ditolak-isi-bbm-di-antrean-mobil.html)

Sumber lainnya:

Sekolah Tinggi2 di jogja tapi mulut gak berbudaya, njaluk dipiyekke iki?? http://www.kaskus.co.id/thread/53fe9876148b461f1f8b456a/sekolah-tinggi2-di-jogja-tapi-mulut-gak-berbudaya-njaluk-dipiyekke-iki

Serobot Antrean Mobil di SPBU, Gadis Pemotor Ini Disoraki Warga
http://news.detik.com/read/2014/08/27/150037/2674146/10/serobot-antrean-mobil-di-spbu-gadis-pemotor-ini-disoraki-warga




Dibully, Florence Sihombing Minta Maaf di Path
http://www.nemukabar.com/2014/08/dibully-florence-sihombing-minta-maaf.html

**

Ampe pihak kampus beneran nyeriusin yang beginian cobak, dan dibales permintaan maaf sama yang bersangkutan pun LEWAT PATH JUGA :)) This people are really need a holiday.

Sebagian kecil dari hal ini, juga sempet dibahas lho sama Dinikopi di Psst! Stop berkeluh kesah soal pekerjaan di Twitter.

So, lewat short-post ini, gue mau nge-share beberapa poin yang kayaknya sih penting, sebagai pembelajaran di lain hari buat kamu yang masih suka meremehkan bahwa social media hanyalah sekedar dunia maya. Wrong! Social media adalah kehidupan.