Transjakarta (TJ) , digadang-gadang sebagai solusi kemacetan Jakarta yang makin hari makin parah, tapi untuk gue pribadi, TJ hampir selalu jadi pilihan terakhir. Dua alasan aja.

Pertama, gue nggak tahu alasan Transjakarta dibuat. Jalan-jalan besar dan protokol di seluruh Jakarta dirombak habis dan "dibelah" untuk dijadikan Busway. Dimana kenyataannya, jalan sebesar itu aja udah macet parah, ini malah dibagi dua, dan macet tetap terjadi.

Kedua, dari seluruh peta jalur TJ yang mereka bilang strategis dan bisa menjangkau seluruh Jakarta, nyatanya tetap nggak jadi pilihan gue, karena Mikrolet, Metromini, dan Kopaja masih lebih baik.

Mereka bisa menjangkau ruas-ruas kecil dan pelosok gang Jakarta dengan sangat baik yang notabene hampir susah dipercaya keberadaannya (si gangnya). Walaupun armada bus kecil/sedang udah banyak yang kurang memadai dan banyak yang nggak lulus uji kelayakan, warga Jakarta nggak peduli, toh mereka tetap asik-asik aja ikut naik.

Sementara TJ, kita harus rela jalan kaki untuk datang ke shelter terdekat, beruntunglah yang rumahnya di sekitaran halte Busway.

Seenggaknya, itulah hal-hal yang selalu mutar-muter di pikiran gue dulu. Sampai akhirnya, gue riset sendiri, bikin tesis dan komparasi sendiri, plus nge-browse video-video pemaparan Pak Basuki Tjahaja Purnama dan PEMDA di Youtube.

Akhirnya gue sadar, buat sekarang ini, Transjakarta adalah solusi edan yang paling logis.

Sudah masuk pertengahan di akhir tahun.

Untuk sebagian orang, menulis track-record dan hasil resolusi selama setahun dilakukan saat tahun berakhir. Tapi buatku, klimaksnya justru datang saat masih di pertengahan akhir tahun ini, dan aku nggak mau melewatkan momen berharga dan good-mood ku kali ini :)

Saya, Afghan Elbanna. Dan hari ini sepesiyal buat saya.


7-Eleven/Sevel, convenience store Amrik yang kemudian dibayarin Jepang ini pada dasarnya cuma outlet toserba yang nggak ada bedanya kayak Indomart dan Alfamart. Kalo nggak salah sih, pertama kali buka di Jakarta, di daerah Bulungan, seketika langsung menjamur.

Beberapa kelebihan yang dimiliki Sevel, salah satunya adalah re-branding produk seperti:


Aslinya, semua sih gara-gara IRON MAN III

Karena saking joss-nya film ini, gue lantas berniat untuk nonton semua sekuel series dari film bikinan Marvel Studios ONLY IN THEATRE. 

Soalnya, selain gue bukanlah movie-freaker-chaser yang selalu nonton first-release sebuah film di bioskop, pas gue nonton IRON MAN III ini lagi di laptop hasil dari download-an, langsung ngedrop drastis sensasi storyline-nya.

So I guess, sensasi film favorit sekelas Marvel harusnya memang worth it banget buat ditonton di bioskop.

Nah, salah satu superhero (if you can say it so) yang paling gue tunggu adalah THOR. Setelah dibikin gak puas untuk Thor yang pertama karena penggarapan storyline yang terkesan buru-buru, gue lumayan berharap besar untuk seri yang kedua ini, The Dark World.

Jadi, kenapa gue berminat buat nonton Thor? Alasannya adalah:

1. Of course, gue mau bayar utang storyline yang nggak terpuaskan di seri pertama.

2. Bukan Thor yang gue tunggu, melainkan presence Loki sebagai the God of Mischief  digarap dengan lebih nakal dan nggak terlalu human banget. Di seri pertama, kedewaannya sama sekali nggak keliatan. God of Mischief cuma bisa bikin ilusi? Oh come on, that's why Dedy Corbuzier exists.

3. Gue mau liat palu sakti Mjolnir yang digadang-gadang "it powers has no equal" digarap maksimal sesuai dengan pencitraannya.

4. Semua sekuel superhero yang digarap Marvel Studios di seri pertama dan kedua udah pasti introduction. Iron Man 1-2, Spiderman 1-2, biasalah. I mean, stop it now in this Thor! Gue penasaran dengan cerita apa sih yang bakalan dibahas di Thor versi film.

Okay, still reading? Spoiler alert yah.


Iseng maen ke kamar adek gue, dia lagi asik manggut-manggut dengerin satu lagu yang kayaknya headbanging abis. Penasaran, gue cabut headsetnya dan langsung colokin ke speaker terdekat. Satu intro dari lagu yang berjudul "LABIL" seketika menarik perhatian gue. "Band apaan sih ini, dek?"

THIRTEEN, mas.