Aslinya, semua sih gara-gara IRON MAN III. 

Karena saking joss-nya film ini, gue lantas berniat untuk nonton semua sekuel series dari film bikinan Marvel Studios ONLY IN THEATRE. 

Soalnya, selain gue bukanlah movie-freaker-chaser yang selalu nonton first-release sebuah film di bioskop, pas gue nonton IRON MAN III ini lagi di laptop hasil dari download-an, langsung ngedrop drastis sensasi storyline-nya.

So I guess, sensasi film favorit sekelas Marvel harusnya memang worth it banget buat ditonton di bioskop.

Nah, salah satu superhero (if you can say it so) yang paling gue tunggu adalah THOR. Setelah dibikin gak puas untuk Thor yang pertama karena penggarapan storyline yang terkesan buru-buru, gue lumayan berharap besar untuk seri yang kedua ini, The Dark World.

Jadi, kenapa gue berminat buat nonton Thor? Alasannya adalah:

1. Of course, gue mau bayar utang storyline yang nggak terpuaskan di seri pertama.

2. Bukan Thor yang gue tunggu, melainkan presence Loki sebagai the God of Mischief  digarap dengan lebih nakal dan nggak terlalu human banget. Di seri pertama, kedewaannya sama sekali nggak keliatan. God of Mischief cuma bisa bikin ilusi? Oh come on, that's why Dedy Corbuzier exists.

3. Gue mau liat palu sakti Mjolnir yang digadang-gadang "it powers has no equal" digarap maksimal sesuai dengan pencitraannya.

4. Semua sekuel superhero yang digarap Marvel Studios di seri pertama dan kedua udah pasti introduction. Iron Man 1-2, Spiderman 1-2, biasalah. I mean, stop it now in this Thor! Gue penasaran dengan cerita apa sih yang bakalan dibahas di Thor versi film.

Okay, still reading? Spoiler alert yah.


Iseng maen ke kamar adek gue, dia lagi asik manggut-manggut dengerin satu lagu yang kayaknya headbanging abis. Penasaran, gue cabut headsetnya dan langsung colokin ke speaker terdekat. Satu intro dari lagu yang berjudul "LABIL" seketika menarik perhatian gue. "Band apaan sih ini, dek?"

THIRTEEN, mas.


Berawal dari kegusaran gue terhadap adik perempuan semata wayang yang entah gak bisa konek ketika mengkomunikasikan sesuatu ke bokapnya. Lalu, gue mulai penasaran dan menganalisis dimana sih sebenernya letak miss nya. 

And finally, ternyata memang ada satu istilah khusus untuk keadaan miss semacam ini.

Hari gini, emang banyak banget orang tua yang gagal paham sama era anak-anaknya sekarang. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa perilaku sang anak adalah reaksi pembantahan atas apa yang orang tuanya ajarkan dengan pemahaman berdasar pakem konvensional.

Padahal, Bumi tetap berotasi, zaman bergolak dan mengalami perubahan. Dan sekarang adalah jamannya para Digital Native Generations.

Lagi-asik-asik browsing Youtube, gue menemukan satu liveshow yang mencengangkan, judulnya adalah "The Jesus Chatline".

Ada yang pernah denger acara ini sebelumnya?


Metode ini rupanya udah lama banget eksis dan menjadi alternatif favorit buat para musisi-musisi digital. Dan karena terlalu lama salah gaul, metode ini baru gue cobain KEMAREN! :'(

Opsi alternatif ini sangat cocok buat kamu yang ngerasa mubazir kalo harus beli ampli, padahal mah cuma buat main di kamar.

Bener banget, post berikut ini akan menjelaskan soal gimana sih caranya menghubungkan gitar ke laptop.

Hey, it's me again!

Berjuta-juta tips, eBook, sampe FAQS klise yang diyakini bisa nolong para volunteer interview, ternyata belum sepenuhnya berhasil mengantar mereka ke depan gerbang pekerjaan. 

Sepengalaman gue, beberapa dari mereka nggak berusaha jadi diri sendiri dan terlalu terpaku sama jawaban-jawaban yang mereka dapet di eBook dan FAQS tadi. Karena esensi INTERVIEW PEKERJAAN sebenernya nggak se-menakutkan yang mereka bilang kok. Justru simpel banget.
Be positive, dan berani mencoba
Kesalahan fatal dari para newbie yang baru sekali-dua kali ngadepin interview pekerjaan antara lain:

1. Terlalu jujur

Pertanyaan yang menjurus di poin ini datang ketika kamu dikasih pertanyaan yang sebenernya jebakan dari si Interviewer, contoh:
Apa kelebihan dan kekurangan kamu? Ada apa dengan kantor/tempat kamu bekerja sebelumnya?
Jawaban terbaik dari pertanyaan tadi adalah: BE POSITIVE.

Ketika ditanya tentang kelebihan dan kekurangan kamu, jangan over-pede, dan jangan juga terlalu jujur mengumbar kekurangan.

Gambar dari sini
Efeknya si Interviewer jelas jadi ilfeel dan mikir beribu kali untuk nge-hire kamu. Buat apa nge-hire kalo kamu orangnya narsis dan di sisi lain ternyata juga terlalu banyak kekurangan yang gak sebanding sama kelebihan/kenarsisan kamu?

Ketika ditanya tentang "previous work", kamu jelas nggak boleh buka aib perusahaan di tempat kamu kerja sebelumnya, toh duit gajinya tetep kamu terima kan? Itu nggak fair.

Kamu bisa menjelaskan bahwa di tempat sebelumnya kamu nggak mendapatkan ekspektasi yang kamu harapkan, atau perihal semacamnya. Dan berharap di tempat yang kamu lamar sekarang bisa fit-in sama kemampuan dan kontribusi yang kamu tawarkan.

2. Takut untuk belajar dan kurang berani mencoba
Kalo kamu dari awal udah niat ngelamar ke satu perusahaan requirements-nya kamu banget, tapi ada beberapa skill-skill vital yang kamu nggak punya, kamu tetep keukeuh buat ngelamar, dan kamu merasa sanggup.

Tapi ketika sampai di meja interview, kamu grogi dan ngerasa nggak pede karena kamu merasa ngebohongin diri sendiri. Di sini masalahnya.

Logikanya gini:

Ilmu/skill pada dasarnya adalah pelengkap. Jadi, yang harus kamu lakukan adalah berani buat nyoba dan meyakinkan si HRD bahwa dia nggak akan nyesel nge-hire kamu. Yang penting diterima dulu, urusan skill yang belum lengkap mah urusan belakangan.

Kalo kamu selamanya terlalu jujur dan minder sama kemampuan kamu sendiri, kamu nggak akan diterima kerja DIMANAPUN, ever! Buat apa nge-hire orang yang gak punya hal positif?

Karena yang mereka harapkan simpel : Kita tahu nobody's perfect, semua orang punya kekurangan. Jadi, masalahnya tinggal seberapa jago memoles kekurangan yang kamu punya menjadi suatu hal yang positif.
 
3. FINAL STAGE: Any Question?

JDER. Kebanyakan dari kandidat udah terlanjur nervous, bawaannya pingin cepet-cepet minggat dari ruang interview. WRONG!

Justru ini adalah saat yang paing tepat untuk mengetahui gambaran konklusi interview kamu. Balas dengan bertanya "Apakah ada hal yang membuat anda tertarik dari aplikasi yang saya ajukan?"

Dengan begitu, kamu bisa segera tahu apakah memang kamu kandidat yang cocok untuk perusahaan tersebut atau nggak. Lumayan kan, bisa menghemat dua minggu untuk siap-siap cari kerjaan lain :)
Interview adalah soal apa yang bisa kamu jual terhadap perusahaan, sehingga mereka nggak rugi bayar kamu.