Matinya Hashtag

5 comments
Source

Gue mulai aware tentang keberadaan Twitter hashtag (#) itu justru setelah setahun pake Twitter, sekitar tahun 2010. Padahal, hashtag ini udah populer di era awal kemunculan Twitter tahun 2007. Eh, ternyata tambah booming lagi semenjak Trending Topic mulai jadi ukuran kesuksesan influence/campaign sebuah topik.

Tetapi, icon tanda pagar ini kayaknya bukan pertama kali ada di Twitter, seinget gue di MIRC juga ada. Fungsinya pun sama kayak Twitter, untuk ngelompokkin sebuah topik. 

Tapi di era hari ini, penggunaan hashtag di Twitter mulai "mbleber" jadi ajang lucu-lucuan seperti #eaaaa #sakarepmu #kode dan lain-lain, semata untuk merangkul perhatian. Lucunya, Facebook jadi latah ikut-ikutan mengadaptasi penggunaan hashtag dengan fungsi yang agaknya kurang jelas di platformnya.

Seiring berjalannya waktu, gue mulai nggak berminat memakai hashtag sebagai tolok ukur influence di Twitter.  Abis gimana ya, kok rasanya kurang hooh aja gitu.

1.Hashtag terlalu general, tweet jadi tercampur

Hashtag aslinya dipakai untuk mengelompokkan kategori, keyword atau topik yang sama agar gampang kalo nanti mau di search lagi, semacam pengarsipan gitu. Atau bisa juga untuk menyelaraskan bahasan saat lagi bikin serial tweet/kultweet.

Kelemahannya, pemilihan kata/judul untuk hashtag harus tepat dan unik. Ini penting untuk mencegah orang lain yang memakai nama hashtag serupa jadi nggak tercampur. 

Misal, kamu lagi kultweet pake hashtag #MasjidBagus yang membahas tentang masjid-masjid bagus di Jakarta. Ternyata ada orang lain yang pake hashtag #MasjidBagus membahas tentang gimana trik-trik membangun Masjid yang baik. Otomatis, tweet jadi kecampur karena pake hashtag yang sama. 

Meski yang ngetweet beda username, "tubrukan tweet" tersebut bikin pencari/searcher jadi bingung dan memilah-milih lagi.

2. Ada resiko tweet lenyap

Kalo kamu si empunya akun A, kamu bisa tetap mengakses semua tweetmu lewat Tweet Archive. Tapi kalo kamu adalah searcher tweet akun A, suatu waktu kamu akan kesulitan mencari tweet berhashtag dari akun A, karena Twitter punya batas searching.

Sayang banget kan?

Alternatif dari dua masalah tersebut, Chirpstory mungkin bisa jadi pilihan kamu.

**
Source
Chirpstory ini semacem mini blog, berisi rangkuman serial tweet dari banyak Twitter User yang bisa kamu baca secara praktis. Ngechirp, akan berguna buat kamu yang sering bikin serial tweet dengan topik penting, atau yang sering cerita-cerita pengalaman pribadi.

Apalagi kalo kamu ngetweetnya mut-mutan ((MUT-MUTAN)). Kadang bagus, kadang nggak, kadang penting, kadang nggak. Nah, pas tweet kamu lagi bagus dan share-able, dengan metode chirp ini, pembaca bisa tahu kalo akun kamu punya nilai plus terhadap suatu topik. 

Soalnya, nggak banyak orang mau scroll-scroll timeline suatu akun sampe nemu tweet yang bagus menurut dia, ujungnya bisa aja malah nggak jadi follow. Jadi, anggaplah Chirpstory ngebantu mengarsipkan tweet-tweet terbaik kamu serta menaikkan sedikit stats interaksi.


Kelebihan Chirpstory dibanding hashtag:

1. Platform Chirpstory memudahkan kamu untuk recycle/re-publish konten tweet. Karena semua tombol seperti retweet, fav, juga ada di Chirpstory. Hasilnya akan beda kalo kamu buka arsip dengan Tweet Archive berformat excel, kamu masih harus sibuk copy-paste.

2. Semua arsip tweet yang kamu bikin akan berakhir menjadi sebuah link. Membuat kamu mudah nge-share serial tweets/kultweetan walaupun orang lain nggak pake Twitter. Kamu bisa tempel link Chirpstory kamu di Facebook, Path, dll. Dan nggak ada time-limit, nggak peduli udah seberapa lama tweet kamu dibuat.

3. Kalo kamu tempel link Chirp di blog, akan memperbesar kemungkinan kamu difollow dan menaikkan engagement. Karena yang tercantum disana adalah arsip top-tweets kamu, bukan sekedar timeline. 


Cara membuat Chirpstory:

1. Buka http://chirpstory.com/, klik Create Chirpstory. Atau bisa juga ke menu lalu pilih Create New.

2. Akan tampil dua kolom berbeda, yaitu timeline box dan chirp box. Dibagian bawah ada beberapa pilihan opsi yang bisa kamu atur sebagai filter:


- Keyword: Menampilkan/memfilter timeline berdasarkan keyword yang kamu masukkan di search box.
- User:  Menampilkan/memfilter timeline berdasarkan Twitter username yang kamu masukkan.
- Remove RT: Jika dicentang, maka retweetan kamu (tweet orang lain yang kamu retweet pake RT general) nggak akan masuk ke kolom timeline.

3. All set? Sekarang tinggal memasukkan tweet-tweet terpilih kamu dari timeline box ke chirp box dengan metode drag & drop.

4. You're ready to go. Tinggal masukkan judul dan kategori, lalu klik publish. Link Chirpstory akan otomatis ter-update di akun Twitter kamu.

[Pret's-pektif]: "Akan bijak rasanya setiap kali kamu bikin serial tweet atau nge-tweet bertema tertentu, mendingan langsung dichirp. Jadi, ketika tweetmu lenyap/tenggelam di Twitter search seiring berjalannya waktu, kamu tetep punya link aksesnya. Yang mana bisa kamu pakai untuk brainstorming kenangan, atau sekedar baca koleksi bookmark pribadi di kemudian hari."


Terbantu oleh: 

5 comments:

  1. Eh mimin-mimin akun komunitas kudu banget nih baca ini biar nggak males ngechirp :D

    ReplyDelete
  2. Mimin akun komunitas is here. Noted! :3

    ReplyDelete
  3. makasih min artikelnya ini sangat bermanfaat sekali...
    http://cody.id/produk/power-supply/

    ReplyDelete