Banjir Jakarta, Akibat Kebanyakan Berdo'a

2 comments


Ini seriusan.

Gue yakin kalian para warga Jakarta dan temen-temen gue sendiri udah cukup muak sama banjir yang seringkali menggenangi Jakarta, entah itu emang banjir dari Jakarta atopun kiriman dari Bogor, it doesn't matter.

IMHO, gak usahlah kalian terlalu banyak mengkritisi para orang berwenang yang punya kewajiban ngurusin Jakarta, gak usah juga kalian terlalu banyak meratap dan bikin statement "Pray for Jakarta" dan semacamnya, karena kenapa? 

Itu USELESS.

Iya, gue berani bilang itu USELESS, karena masalah banjir ini juga sangat berdasar sama masyarakat nya juga. Mau tau faktor apa aja yang dari dulu dibutuhin kesadaran dibanding tindakan konkrit?



1. SAMPAH. Sudahkah kalian bener-bener tertib ngebuang sampah pada tempatnya? Gue masih sering liat masyarakat kampung yang dengan sangat gobloknya malah ngebuang sampah di arus banjir yang udah menggenangi depan rumah mereka. Alesannya karena "toh itu sampah juga nanti ke-ikut arus banjir dan masuk ke selokan juga". What a shitty asshole.

2. Harusnya ada kebijakan ABSOLUT soal pembatasan pembelian kendaraan pribadi. Soalnya kalian tau nggak, tanah jakarta itu makin tahun kian ambles karena keberatan massa kendaraan dan para perantau dari luar Jakarta yang lagi-lagi juga bawa kendaraan pribadi, yang bikin Jakarta jadi makin rentan kena banjir. Iya gue tau, salah satu income terbesar pemerintah juga dari pajak dealer kendaraan swasta, tapi kalo tanah dan jalan Jakarta ambles tenggelem, itu kendaraan bisa ngapung di banjir gitu? I don't think so.

3. Jakarta sangat kurang resapan. Kondisi saat ini sistem drainase Jakarta cuma 30%, sisanya udah di rebuild sama mall-mall pembunuh pohon beserta pembangunan-pembangunan gak penting lainnya yang gak pernah jadi ujungnya.Gue pingin suatu hari di setiap genteng rumah penduduk ditanami tumbuhan dan tanaman hijau buat mengurangi intensitas air hujan yang menggenang.

4. Terlalu banyak taman-taman kota yang di bulldoser buat pelebaran jalan dan trotoar. Udah tau banjir terus, pengguna kendaraan malah semakin dimanjain dengan adanya pelebaran jalan dan pembongkaran trotoar pejalan kaki. Sesungguhnya aspal jalan gak pernah punya riwayat bisa nyerap air dari dahulu kala, dan ini sungguh gak berotak sama sekali.

5. PENDUDUK BANTARAN KALI YANG GAK MAU DIUSIR. Setuju nggak? Dari dulu pemerintah juga udah gregetan sama tipe penduduk yang satu ini. Di baik-baikin, di kasi approach halus gak mudeng juga, akhirnya pemerintah harus ambil tindakan tegas dong, yakni pengusiran. Ujungnya penduduk bantaran kali bikin demo massal dan gugatan menolak pengusiran tadi. Bilang kalo mereka-mereka adalah masyarakat miskin gak berpunya. Kayaknya banyak juga deh pengemis-pengemis jalanan yang punya rumah-rumah gedong bak istana.  Klise abis, dan akhirnya jadi circle of confusing. 

6. Sangat ironis ketika kita liat masyarakat yang kebanjiran masih bisa ketawa tersenyum dengan sangat inosens di tengah genangan banjir seakan-akan banjir adalah siklus iklim yang lumrah bin normal, dan gak sengaja juga mereka disorot dan masuk tivi. Agak gak ngerti aja sih sebenernya, nerima takdir juga gak gitu-gitu amat kali.



***

Mungkin itu sebagian dari unek-unek dan pandangan gue selama ini soal banjir Jakarta. Agak mual rasanya ketika kita liat entah siapa gitu berkoar-koar "pray for jakarta" dan segala bentuk ke-prihatinan sama bencananya. 

Tuhan kalian gak butuh banyak do'a, tapi introspeksi dan tindakan segera. Agreed?

2 comments:

  1. kayaknya waktu banjir nisa dijadiin hiburan kayak lomba mancing gitu...
    :P

    ReplyDelete